KEBIJAKAN E-KTP   Leave a comment

Penerapan E-KTP yang baru-baru ini diterapkan di Jakartan dan menyusul kota lainnya merupan langkah awal dalam penerapan SIN (Single Identify Number). Dengan SIN nantinya satu orang hanya memiliki satu identitas/ Nomor Induk Kependudukan (NIK) saja sampai yang bersangkutan meningal. Nomor NIK yang ada di e-KTP nantinya akan dijadikan dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya (Pasal 13 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Adminduk).

Dengan penerapan E-KTP ini sebenarnya ada banyak kemajuan, dimana sudah ada data kependudukan yang lebih lengkap. Beberapa fungsi dari E-KTP antara lain :

  1. Sebagai identitas jati diri;
  2. Berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan sebagainya;
  3. Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP; Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.

Dengan berbagai kelebihan dari E-KTP, hendaknya program ini tidak hanya berhenti sampai dengan ini saja, karena dengan keakuratan data kependudukan diharapkan program pemerintah bisa lebih tepat sasaran, misalnya dalam hal belanja subsidi dan dalam hal pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Proyek e-KTP merupakan proyek penting karena berkaitan dengan tertib administrasi kependudukan yang hingga saat ini masih menjadi masalah krusial di Indonesia. Proyek e-KTP berbarengan dengan penerbitan Nomor Identitas Kependudukan (NIK) tunggal penduduk (Single Identitiy Number) yang nantinya terintegrasi dengan berbagai dokumen kependudukan lainnya. Argumentasi pemerintah untuk mengimplementasikan penerbitan NIK dan e-KTP juga tepat karena bertujuan untuk menata informasi kependudukan secara akurat dan mengurangi dampak negatif akibat dari kesemrawutan data penduduk seperti mudahnya manipulasi identitas dan mudahnya seseorang memiliki KTP ganda. Berbagai program pemerintah juga dapat diefektifkan karena dengan data penduduk yang valid dapat menentukan sasaran secara lebih akurat, dan sebagainya. Artinya kebijakan penerbitan NIK dan e-KTP juga dibutuhkan untuk segera dilaksanakan.

Permasalahannya, mekanisme pelaksanaan proyek yang berbiaya Rp 6,3 trilyun ini dan diselenggarakan secara nasional perlu dicermati secara lebih mendalam. Persoalan tender pengadaan barang dan jasa yang dinilai tidak transparan karena pemenang tender justru vendor yang mengajukan penawaran yang lebih tinggi, kapasitas pelaksana kebijakan yaitu Ditjen Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri yang belum pernah dibuktikan dengan mega proyek semacam ini, dan terpenting adalah keamanan data penduduk yang telah dikonsolidasikan.

Proyek e-KTP tengah mendapat sorotan. Misalnya karena lelang tender e-KTP di Kemendagri bertentangan dengan Perpres tentang Pengadaan Barang dan Jasa, penggelembungan nilai proyek hingga menjerat 4 orang sebagai tersangka, dan pesimisme proyek ini mencapai target di waktu yang ditentukan. Mendagri Gamawan Fauzi mempersilakan proses hukum terus berjalan kendati dia menyebut uang puluhan juta rupiah yang diterima panitia pengadaan barang dan jasa telah sesuai dengan Perpres 54/2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.

Data penduduk menjadi poin penting karena memuat data vital dan detail masing-masing penduduk. Data penduduk yang ada saat ini saja seringkali bocor ke pihak lain padahal kita tidak pernah memberitahu kepada pihak lain, seperti misalnya tiba-tiba kita menerima penawaran suatu produk melalui telepon pribadi, atau promosi ke alamat rumah. Persoalan seperti ini masih belum menjadi kesadaran bersama tentang pentingnya pengamanan data pribadi. Padahal, tindak kejahatan dan manipulasi sering berawal dari kecerobohan dalam menjaga identitas pribadi. Untuk kepentingan penerbitan NIK dan e-KTP, semua data penduduk harus direkam dalam sebuah chip dan diintegrasikan ke dalam server induk. Dalam formulir F-1.01 terdapat lebih dari 50 item data penduduk yang akan direkam bersamaan dengan kesepuluh sidik jari dan iris mata. Dapat dibayangkan bagaimana rincinya data penduduk yang dihimpun. Pertanyaan penting dari pengelolaan data penduduk yang dihimpun: sanggupkan pemerintah mengelola bahwa data valid ini tidak akan bocor ke pihak manapun? Sebab data penduduk, melalui NIK akan terkonsolidasikan ke berbagai dokumen; paspor, rekening bank, akta, dan sebagainya. Informasi masing-masing penduduk akan semakin transparan dan detail, tapi justru disinilah potensi bahayanya, terutama menyangkut penduduk berstatus VIP akan semakin mudah terpetakan; pengambil kebijakan di posisi kunci dan strategis di lingkungan pemerintah, pengusaha, politisi, diplomat dan sebagainya.  NIK dan e-KTP berbasis teknologi terintegrasi justru dapat menjadi ancaman bagi penduduk jika data ini bocor. Percayalah, yang berkepentingan dengan data penduduk sangat banyak, tidak hanya di lingkup domestik. Oleh karena itu, pertanyaannya besarnya, dapatkah pemerintah menjamin keamanan data penduduk dan memastikan data tersebut tidak jatuh ke pihak lain diluar pemilik otoritas? Institusi manakah yang akan memegang otoritas atas data penduduk tersebut? Siapa saja yang dapat mengakses? Bagaimana payung hukum untuk melindungi data tersebut? Apakah pelaksana pemutakhiran data saat ini betul-betul ditangani oleh pihak yang berkompeten baik dari segi metodologi dan keamanan terhadap data yang telah dihimpun? Sepertinya kita perlu menyikapi persoalan ini secara lebih komprehensif karena tanggung jawab negara menjadi lebih besar; menjamin keamanan setiap penduduk justru karena semakin lengkapnya informasi.  Mungkin banyak yang menganggap persoalan ini hanya gambaran dari sikap paranoid yang sangat subjektif, tapi bagi siapa saja yang terbiasa bekerja dengan data, pasti akan menyadari nilai strategis dari data penduduk, terlebih data penduduk yang rinci dan terkonsolidasi.

Posted November 23, 2011 by katakatakita in umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: